"Unggah ungguh" ternyata tidak sama maksudnya dengan "inggih inggih"...
Saya baru tahu bahwa artinya "Unggah ungguh" adalah tata-krama berbahasa Jawa berdasarkan derajat usia yang mengekspresikan hormat/respek kepada orang yang lebih tua. Betul tidak ya?
Mungkin ahli bahasa Jawa yang kompeten yaitu Pak Pirda Budi, Mas Djoko, dapat memberikan penjelasan lebih baik kepada kami.
Supaya selanjutnya tidak terjadi kesalahan dlm pemakaian kata "Unggah Ungguh" di dalam pergaulan kami. Terima kasih.
Salam Lenny
nb : topik yang menarik . Seandainya ada yang bisa lebih memberi pencerahan...
Klip bikinan Kusuma.
Terima kasih ya Kus..
Tuesday, September 2, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






Halo salam kenal, kebetulan lewat pas habis baca artikel tentang "hak cipta/hak karya" di suatu CJ yg bermarkas di ibukota. Saya tidak bermaksud memberi pencerahan, malahan mau tanya apa sama istilah "unggah-ungguh" ini dgn "ewuh-pekewuh"?
ReplyDeleteBoleh yah saya share sedikit? Di dalam sistem kekerabatan orang Batak/Tapanuli ada istilah Dalihan Natolu (dalihan = tungku, natolu = tiga), dimana dalam pesta2 adat itu wajib (hadir) hukumnya. Ketiga unsur itu terdiri dari Hula-hula (jangan ketawa), Boru dan Dongan Tubu KLIK SINI, atau dicari di search engine.
Yang unik, peranan seseorang bisa berubah-ubah, misal pihak Hula-Hula di suatu pesta adat "Tujuh Bulanan" (ini cuma contoh) bisa beralih peran menjadi Boru di acara perkawinan atau menjadi Dongan Tubu pada upacara kematian. Praktis panggilan kekerabatannya juga berubah2 sesuai PERAN nya (bukan "derajat usia" nya)dalam acara adat tsb. Nah diluar acara adat itu panggilan2 "hormat" tersebut bisa berubah tergantung kesepakatan dua belah pihak (yang dipanggil dan yang memanggil). Krn misal, sebagai lelaki, bisa saja seseorang ditelusuri asalnya dulu, dilihat dari sisi ayah atau ibu. Biasanya sih kesepakatan diambil dari kedekatan (berdasarkan hubungan darah).
Diluar (upacara adat) itu ... di komunitas yang lebih luas atau yang bertaraf "internasional" kira-kira Tata Kramamana yang dipakai? Saya? Anda? Kita? Atau ... tergantung "hukum" atau "arus" yang mengalir ...?
Kalau mau menuruti pakem adat leluhur bisa gawat juga ... krn ada adat yg "mengatur" bahwa apa yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan "biras" (ipar?) tidak boleh saling bersentuhan. Misal ipar saya jatuh dan meskipun saya satu-satunya yang dapat menolongnya pada saat itu, saya tidak dapat "menyentuhnya" karena adat yang berlaku di sistem kekerabatan orang Batak.
Pertanyaannya adalah kita ini orang apa? Silahkan tarik suara ... do re mi ...
Mauliate godang,
BTL asal Toronto (baca: Tarutung)yang nggak begitu paham dengan adat Batak.
Horas !
ReplyDeleteCuma itu satu2nya bahasa Batak yang nonk ngerti.
Pertanyaan : kita ini orang apa ?
Orang Indonesia yang bi nung. Lost generation.
Banyak kekayaan nusantara , terutama bahasanya yang kalau tidak diperkenalkan ke generasi di bawah kita, mungkin bisa punah.
Halah , toh bahasa toh cuma Alat Komunikasi ( benarkah ? ) Ada proses eliminasi/evolusi/revolusi, kalau tidak diperlukan lagi, tidak up to date , ya dikubur saja.
Tapi entah kenapa justru semenjak tidak tinggal di Indonesia , justru keanekaragaman bahasa dan adat istiadat negara Indonesia terasa semakin indah.
(pendapat pribadi loo :)
IKUTAN...HORAS BAH....!!!
ReplyDeleteDj. sebagai orang Jawa,ingin memberi sedikit tanggapan tentang Toto-Kromo. Kan itu kata-kata dari Bahasa Jawa.
Benar memang,Dj.sudah sejak umur 12n tahun meninggalkan kota Semarang,6 tahun di Bandung,3 tahun di Makassar,1 tahun di England dan 33 tahun di German....
Walau demikian,aturan yang diajarkan oleh orang tua sejak kecil,akan tetap menempel di kepala.
Dj. hanya ingin sedikit sharing,apa yang Dj. tau dari belajar didalam rumah tangga,yang berasal dari Semarang.
Dj. yakin yang dari Solo,Jogja akan bisa lebih menjelaskan secara mendetail lagi.
Toto-Kromo adalah aturan yang dipakai dalam kehidupan seseorang,baik didalam keluarga,maupun di lingkungan dimana orang tersebut berada.
Dj. lebih condong lagi dengan kata sopan-santun.
Karena kalau dengan kata Toto-Kromo,bagi orang yang bukan orang Jawa,akan sulit memahami.Karena akan banyak memakai perasaan.( bukan berarti orang lain hanya sedikit berperasaan ),tapi moment untuk mengucapkan,atau memakai perasaan itulah yang sering tidak tepat pada saat nya. ( mudah-mudah kata-kata inipun bisa nyambung ya).
Kata sopan-santun,biasanya akan lebih condong kepada,"penghormatan".Mungkin karena rasa respekt.
Kalau kita mendapat hadiah,jelas kita akan berkata "terimakasih" sudah seyogyanya kan...
Tapi Toto-Kromo,hal itu belum cukup...terus apa lagi...???
Nah...untuk orang yang tau berterimaasih,kita sudah ucapkan "terimakasih",nah selanjutnya...apa yang ita bisa bikin,agar yang telah memberikan hadiah itu juga ikut merasa senang dengan kegembiraan kita.
Yang kita bisa bikin,yaitu berusaha agar yang memberi itu ikut senang...
Contoh lain...ada orang berjalan didepan orang lain dan berkata "permisi",sudah sopan bukan...tapi jalan nya se enaknya sendiri...
Sedang yang diajarkan di dalam Toto-Kromo,sambil kita bícara "permisi",berjalan nunduk,menatap yang dijak bicara dan senyum...
Contoh yang lain nya juga masih banyak....seperti,kalau dirumah ada tamu,kalau mungkin tidak banyak bicara kalau tidak ditanya.
Pandang mata orang tua dan kita belajar apa kata mata orang tua kita tanpa sepatah kata pun.
Dimeja makan pun,juga tidak banyak bicara,kalau tidak ditanya dan tidak boleh mendahului makan sebelun orang tua ambil duluan.
Nah..itu sedikit Toto-Kromo yang ada di Jawa ( mungkin,sekarang yang ada di Desa-desa )
Sedangkan seperti Dj.sudah puluhan tahun meninggalkan Jawa...terus bagaimana....???
Tetap Dj. ajarkan apa yang bisa Dj. ajarkan,untuk istri dan anak-anak.Agar tetap mempunyai setidaknya....sopan santun.
Ada seorang teman pendeta (orang german ) yang pernah bertugas di Semarang selama 18 tahun. Bertanya kepada istri Dj.
Kok bisa hidup dengan orang Jawa,yang sangat sulit untuk dimengerti apa maunya.
Disitu Dj. bangga,karena sejak pernikahan lebih dari 30 tahun,kami masih bisa hidup rukun.
Istri Dj. tau benar,apa yang menjadi keinginan Dj.dan sebaliknya juga.
Apa lagi sebagai orang Jawa....biasanya tidak akan membela
istri atau anak didepan orang lain,walaupun dia benar....sulit kan...???bisanya hanya,kata-kata seperti...ya sudah...minta aaf saja...kan selesai...disitu anak-anak tau,bahwa dia benar dan mau minta maaf.
Orang jawa bilang..."sing waras, ngalah..."( yang sehat,ngalah ) nggak rugi kok...
Nanti dirumah,baru akan ada pembicaraan yang positiv.
Walau anak-anak Dj. semua lahir di German,namun mereka memiliki sopan-santun yang besar.
Apa lagi kalau ada tamu yang datang dan mengatakan,istrimu bukan orang German,dia orang Solo yang salah lahir saja..hahahahaaa..
Ya benar,memang istri Dj. tau benar apa itu sopan santun....
Jadi,sopan santun itu bisa diajarkan,baik di sekolah,maupun di dalam keluarga.
tapi Toto-Kromo tidak bisa diajarkan begitu saja.Harus mengikuti suasana yang ada dan perasaan yang tepat pada waktunya,untuk digunakan.
Sulit memang,tapi bukan tidak mungkin.Semuanya mungkin,kalau mau.
Hanya saja mesti dari kecil sudah diajarkan,kalau sudah besar...repot...ya belajar saja sopan-santun.....
Jadi,antara Toto-Kromo dan Sopan-Santun,memang ada bedanya....namun banyak sudah yang pudar dan tidak lagi mengerti.
Memang sulit dimengerti,apa lagi orangnya....
Mungkin ada yang dari Jogja dan Soslo yang bisa menjelaskan lebih dari Dj. TERIMAKASIH....!!!
Okay....maaf kalau tidak nyambung ya.
Salam manis dari Mainz.
Dj. ( orang Jawa yang kesasar di German )
Lega ,
ReplyDeleteakhirnya Pakde bisa komen juga ;))
Matur nuwun , nggih.