Kali ini saya akan menceritakan pengalaman tentang perjalanan kami ke daerah wisata Curug Cimahi yang berada di kawasan Bandung Utara.
Tujuan : BandungWaktu : Sabtu 30 Agustus 2008
Berangkat : Jam 05.00 pagi dari Tanjung Barat (Jakarta Selatan)
Pulang : Jam 24.00 dari daerah Pelesiran (dekat ITB) Bandung dan sampai di Tanjung Barat jam 04.30
Biaya : sekitar Rp 200.000 untuk 2 motor dan 3 orang
Peserta : Ucok, Lina (pacar Ucok), dan Yudi (teman kantor Lina)
Alat transportasi : Motor Honda Karisma X 125 D dan Yamaha Jupiter MX 135.
Brmmmmm….start the engine guy…..
Waktu baru menunjukkan pukul 03.00 tetapi mata sudah melek karena hari ini sudah janjian akan touring ke Bandung. Setelah beradu sms (text message) dengan sang pacar maka diambil kesimpulan bahwa perjalanan akan benar-benar dimulai pukul 05.00 di jalan TB. Simatupang di daerah Tanjung Barat. Ini terjadi karena pintu pagar tempat kos Yudi baru akan dibuka setelah azan subuh menggema. Hmmm…sambil menunggu maka mata kembali ditutup dan baru akan dibuka kembali sekitar pukul 04.30 dan akan berangkat 15 menit kemudian ke meeting point.
FYI, tempat kos Lina dan Yudi berdekatan dan berada di daerah Cilandak.
Setelah menunggu di tempat pertemuan sekitar 10 menit bersama Richard (adik Ucok) yang akan jogging pagi hari, Yudi dan Lina muncul. Oh iya, Richard tidak dapat ikut dalam perjalanan kali ini karena ia akan mengikuti tes psikotes pada hari Minggu dalam rangka perekrutan masinis untuk pegawai KA. Semoga hasil ujiannya baik.
Lina berpindah boncengan ke motor saya dan kami pun berangkat melewati jalur jalan raya Bogor, Cilangkap, dan Cibubur. Sesampai di Cibubur kami sempat berhenti di pom bensin Petronas untuk memberi kesempatan pada Lina dan Yudi sarapan roti dan mengisi angin pada ban motor agar tekanannya tepat. Terima kasih untuk pom bensin tersebut untuk pelayanannya. Sekitar 20 menit kami berhenti dan selanjutnya kami meluncur ke arah Cileungsi – Jonggol – Cariu- Cianjur-Cibabat-Cimahi. Jalur yang mulus dan lengang mendadak berubah ketika menginjak daerah Cariu. Kami disajikan jalur yang rusak dan menanjak dan di beberapa tempat diadakan perbaikan. Mungkin untuk persiapan jalur mudik lebaran kali ini. Motor pun di set pada gigi paling rendah agar kuat menanjak. Derungan mesin meraung-raung di tengah pagi yang cerah waktu itu. Agar tidak tercecer di perjalanan dan demi keamanan dan keselamatan perjalanan maka komando dipegang oleh saya dan Yudi di belakang. Ini dimaksudkan karena saya telah berulang kali melewati jalur ini. Sekali-kali dalam beberapa menit saya melihat kaca spion motor sekedar untuk memastikan Yudi masih terlihat di belakang saya.
Sesampai di Cianjur kami berhenti sejenak di bengkel resmi dan perjalanan antara Cianjur dan Cimahi berjalan cukup lancar dengan kondisi jalan yang mulus dan arus kendaraan yang tidak terlalu ramai. Setelah mengisi bensin di daerah Cimahi kami memutuskan untuk ke arah Lembang dengan mengikuti petunjuk jalan ke arah Lembang tanpa melewati Bandung. Dalam perjalanan tersebut kami disuguhkan pemandangan yang tidak dapat kami dapati di Jakarta. Tanaman sayuran dan buah-buahan seperti wortel, labu, dan cabe. Jalannya juga cenderung menanjak dan kurang mulus. Di tengah perjalanan kami berhenti sejenak di sebuah saung pinggir jalan dan menikmati bubur kacang hijau dan bercakap-cakap dengan penduduk sekitar. Yang membuat kami terkesan adalah keramah-tamahan penduduk sekitar terhadap kami. Apalagi begitu mengetahui kami dari Jakarta, dan sesekali berbicara dengan bahasa Sunda. Ketika kami ingin makan Pop Mie yang membutuhkan air panas, mereka menawarkan air panas kepada kami. Terlebih lagi rasa bubur kacang hijau yang terasa enak dan murah. Bahkan saya membeli cabe hijau pada seorang ibu yang barusan memetiknya dari kebun. Satu kilo cabe hijau ditukar dengan uang Rp 10.000.
Dari hasil percakapan kami dengan mereka, maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke arah Curug Cimahi atau CIC karena tujuan kami memang ke arah daerah wisata. Sekitar 20 menit kami sampai di tempat wisata Curug Cimahi dan kami pun memarkir motor kesayangan kami di tempat parkir. Setelah membayar tiket seharga Rp 9.000 untuk 3 orang, kami pun turun melewati sekitar lebih 500 anak tangga. Benaran nih……
Sayup-sayur terdengar dari kejauhan dentuman air terjun yang beradu dengan air dan batu di bawahnya. Terikan pengunjung di bawah, helaan nafas yang mulai tak beraturan dan jalanan yang cukup licin karena rembesan dari dinding batu di sekitar tangga mengiringi perjalanan kami. Terlintas di benak kami akan tantangan selanjutnya yaitu bagaimana menaiki kembali anak tangga yang berjumlah banyak tersebut jika kami pulang nanti. Hmfhhfhfhfhfh…..
Sampai dibawah kami melihat beberapa orang sudah menikmati hujaman air terjun yang jatuh tepat di atas mereka. Serasa ingin langsung menceburkan diri ke air tetapi kami mengadakan observasi dulu. He..he.. Teriakan orang yang berada di bawah air terjun seakan-akan memprovokasi kami agar segera bergabung dengan mereka. Air di sana terasa dingin di kaki kami dan akhirnya Yudi dan saya memutuskan untuk berendam dan merasakan air terjun tersebut. Dingin terasa menggigit dan hembusan air terjun kami rasakan. Jeritan dan rasa kagum sesekali keluar dari mulut kami dalam proses ini. Keingintahuan diri ini tentang bagaimana rasanya untuk berakting seolah-olah seorang petapa yang ingin mencoba ilmu kanuragan di bawah air terjun. Ha..ha..ha..rasanya geli dan deg-degan karena menanti air terjun menerpa kepala dan badan kami secara tidak beraturan.
Akhirnya kami pun kedinginan dan menyudahi acara berendam dan mengganti pakaian kami. Di depan sudah tersaji pemandangan anak tangga yang menantang. Setapak demi tapak kami menaikinya dan beristirahat di kala kami merasa letih. Sembari beristirahat kami kembali melihat ke sekeliling dan menikmati pemandangan. Sekali-kali berpapasan dengan beberapa orang yang ingin turun ke bawah.
Mendekati akhir pendakian tangga, kami bertemu dengan "penduduk asli" kawasan Curug Cimahi yaitu para monyet-monyet yang seolah-olah menyemangati kami untuk segera sampai ke atas. Entah kenapa begitu melihat tingkah laku monyet, badan kita seolah-olah mendapat semangat baru. Sampai di atas kami melihat kumpulan monyet di dahan pohon. Begitu melihat adanya sisa-sisa kacang kulit maka kami pun membeli kacang di warung sekitar.
Perjalanan ini memang melelahkan tapi kami merasa puas dan senang.






Hallo Ucok.....
ReplyDeleteDj. nggak bosen melihat foto dan membaca ceritamu yang sangat bagus. Serasa kita ada ikut dalam perjalanan kalian.....
Ingin mengalami sendiri,tapi kalau PulKam,waktunya sangatlah sempit....jadi melalui ceritamu,kami sudah sangat enang,bisa sedikit mengenal daerah curuk Cimahi.....
Sekalai lagi TERIMAKASIH.....
Salam mansi untuk Lina dan Yudi ya...
Dj.