Ada 3 type; yang pertama berbahan kayu murah tanpa cat
Yang kedua, kayu yang sama tapi dengan cat murah dan kaligrafi Allah
Dan ketiga, kayu mahal yang dipelitur dengan ukiran indah
Ayahku sebagai soulmatenya yang mendampingi lebih 60 tahun disuruh memilihkannya.
Ia menunjuk peti mati yang ke dua. Kenapa kok yang ke dua. Dan bukan yang model pertama atau model yang paling bagus, dan tentu saja mahal harganya?
Aku tak tahu, dan juga tak mau tahu.
Kakakku langsung membayarnya.
Dan membawa peti mati ke rumah.
"Adik, bagaimana perasaanmu andai orang yang kau cintai minta dibeliin peti mati?", tanyanya suatu ketika kepadaku.
"Mungkin ia minta keikhlasan dari kita. Keikhlasan untuk melepas kepergiannya. Karena ia telah melihat dengan hatinya, bahwa kini saatnya yang hidup telah siap ditinggalkannya", jawabku spontan.
Jarang kutemukan orang yang siap untuk mati. Yang seakan mengetahui kapan kematiannya. Sebaliknya, banyak kutemui orang-orang yang seolah siap hidup seribu tahun lagi. Hingga harus perlu korupsi, melakukan pungli dan bikin janji-janji palsu.
"Mungkin ia minta keikhlasan dari kita. Keikhlasan untuk melepas kepergiannya. Karena ia telah melihat dengan hatinya, bahwa kini saatnya yang hidup telah siap ditinggalkannya", jawabku spontan.
Namun, ibu kami seminggu sebelum meninggal, telah merencanakan semuanya; pesan makamnya dan peti matinya.
Ibu, kami membaringkanmu dengan lembut. Di dalam peti kami membawamu selama dua jam dengan mobil biru, menuju rumah terakhir. Sebuah rumah singgah sebelum menuju surga.
Ibu, maaf jika kami tak mengantarmu dengan tembakan salvo.
Ibu, maaf jika kami tak memberi penghormatan dengan dentuman meriam atau bunyi tiupan terompet sangkala.
Karena ibu memang bukan tokoh istri pemimpin parpol atau ibu negara. Namun toh, jasa dan pengorbananmu melebihi mereka.
Karena ibu memang bukan tokoh istri pemimpin parpol atau ibu negara. Namun toh, jasa dan pengorbananmu melebihi mereka.






Selamat Jalan Ibunda...
ReplyDelete