Bunga ini pemberian almarhum kakak laki-laki mertua saya. Mereka adalah pasangan rukun yang beda umurnya belasan tahun, yang laki-laki lebih tua. Mereka sering ke rumah atau kami ke rumah mereka. Karena beda selera dan kesibukan, mereka jarang pergi dengan anaknya dan sering dengan kami.
Di rumah kami makan khas daerah, ala Semarang atau Pati : janganan (pecel) semanggi, semanggi dengan gula aren plus jeruk, petis kangkung, mangut ikan pe (pari) asap, jangan boros (ini kayaknya bener2 khas Semarang, semacam lodeh dari tunas "kunci"). Untung istrinya yang asli Jakarta mudah makan apa saja. Kadang juga membawa mereka ke pasar Muara Karang makan makanan Medan, atau "sego gandul".
Sang suami orangnya cekatan, sampai akhir hayatnya, 87an tahun masih menerima reparasi dari tetangga : gunting, keramik pecah dll pekerjaan tangan. Sementara si istri sangat kebalikan, bahkan memasak pun tidak bisa, sangat tergantung suami.
Sang suami memelihara banyak sekali anggrek, termasuk anggrek bulan, vanda dan cattleya.
Suatu hari sang suami sakit dan terpaksa masuk rumah sakit. Sekembali dari RS mereka masih pergi ke rumah kami, tetapi saya kaget karena dia telah berubah. Pikirannya kurang tanggap. Dia (suami) mengkhawatirkan kalau dia tidak ada, bagaimana dengan istrinya (jauh lebih muda, tetapi sangat tergantung padanya). Dia juga mulai memikirkan anggrek2 nya dan menyuruh saya mengambilnya sebanyak saya mau.
Sang suami memelihara banyak sekali anggrek, termasuk anggrek bulan, vanda dan cattleya.
Suatu hari sang suami sakit dan terpaksa masuk rumah sakit. Sekembali dari RS mereka masih pergi ke rumah kami, tetapi saya kaget karena dia telah berubah. Pikirannya kurang tanggap. Dia (suami) mengkhawatirkan kalau dia tidak ada, bagaimana dengan istrinya (jauh lebih muda, tetapi sangat tergantung padanya). Dia juga mulai memikirkan anggrek2 nya dan menyuruh saya mengambilnya sebanyak saya mau.
Beberapa bulan kemudian kesehatannya kembali memburuk dan akhirnya meninggal dunia. Hari berikutnya di rumah duka kami ke sana dan setelah upacara, berbicara (bahkan bergurau dengan istrinya). Beberapa saat kemudian sang istri di suruh pulang oleh anaknya agar istirahat. Sesampai di rumah sang istri yang selama ini sehat sekali, tiba-tiba sesak napas dan lemas. Segera dibawa ke RS dan hari berikutnya beliau menyusul suaminya, meninggal dunia.
Jadilah kedua jenasah disandingkan di rumah duka. Sungguh mengharukan.
Rupanya Tuhan telah menyelesaikan persoalan ini dengan caranya yang tidak pernah kami duga. Kembali mereka rukun berdua di sana.
Jadilah kedua jenasah disandingkan di rumah duka. Sungguh mengharukan.
Rupanya Tuhan telah menyelesaikan persoalan ini dengan caranya yang tidak pernah kami duga. Kembali mereka rukun berdua di sana.
Anggrek ini di berikan oleh anaknya kepada saya, sesuai keinginan ayahnya. Saya mengambil cukup banyak dan merawatnya.Foto ini adalah bunga pertama yang ada setelah kami terima.
-Eko-
-Eko-






No comments:
Post a Comment