SITU Gintung terletak di desa Cirendeu, kecamatan Ciputat, Tangerang adalah sebuah waduk resapan air yang dibangun pemerintah kolonial Belanda (kira2 lebih seabad lalu). Maksud dibangunnya waduk seluas 31 ribu hektar itu menurut catatan sejarah, adalah sebagai cadangan pengairan untuk lahan pertanian di sekitar waduk di kala musim kemarau, dan di musim hujan berfungsi sebagai pengendali banjir.
Namun sejak pemerintahan Belanda bangkrut dan ngacir dari tanah air ini, lambat tapi pasti, puluhan perumahan elit maupun kumuh telah menggantikan tanaman padi di lahan persawahan sekitar waduk Situ Gintung.
Kemudian menjelang bangkrutnya orde baru, waduk Situ Gintung yang berbentunk macam ketapel itu di tengahnya dijadikan obyek wisata untuk menampung luapan hedonisme warga Jakarta. Lalu obyek wisata yang artifisial dibangun diarea itu. Dan situs Gintung yang kini dikuasai pemerintah Banten itu memang populer sebagai tempat wisata di selatan Jakarta, dan menjadi andalan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Tipikal pemerintahan di tanah air, para penyelengara negara sejatinya lebih suka menerima duit dari pada membelanjakannya untuk kepentingan umum. Birokrat tanah air, lebih semangat mengejar warganya untuk membayar pajak. Bila perlu, warga yang tidak memiliki pendapatan tetap dan pengangguran, diwajibkan memiliki NPWP. Yang penting duit masuk ke kas negara dulu. Soal pembelannjaannya, buatlah nota belanja fiktif. Maka jangan heran kalau diawal tahun, banyak pengusaha yang cuma bisa ngedumel karena diminta menandatangani faktur bodong.
Sementara dalam urusan pemeliharaan sarana umum, bisa kita rasakan sendiri. Jalan raya yang tiap hari mereka ikut melewatinya, semakin tahun lobangnya semakin lebar. Pasar tradisional yang dibangun pemda cuma bertahan setahun, setelah itu bangkrut. Pedagang cuma diperas dan dipungut segala macam biaya, namun sampah diangkutnya seminggu sekali. Dan preman pasar ikut minta jatah, tanpa ada penindaaan dari pihak kepolisian.
Fasilitas umum macam jalan raya yang tiap hari mereka lewati saja diurusnya tidak benar, apalagi sejumlah waduk yang lokasinya sulit dan membutuhkan energi besar. Maka tidak mengherankan jika waduk situ Gintung ngamuk dan menenggelamkan ratusan nyawa. Padahal, pada tahun 2008 pemerintah telah menghabiskan dana Rp.35 miliar, untuk merawat waduk tersebut. Dan tahun ini telah diaggarkan Rp.45 miliar. Sementara seorang warga sekitar yang nota bene tak memiliki wewenang intelektual maupun politik, cuma bisa senyum kecut menyaksikan cara kerja birokrat yang cuma menambal tanggul yang bocor macam menambal bak mandi di kakus umum.
Ironsnya, waduk situ Gintung ini dalam radius 5 km di jaga oleh ratusan lurah puluhan camat dan bupati, serta dua gubernur. Dan dari kantor presiden dan wapres, cukup di tempuh tak sampai 20 menit bermobil, maka jika waduk ini menimbulkan bencana, paling pas kalau bencana ini disebut bukan sebagai bencana alam melainkan lebih pas sebagai BENCANA TERBODOH SEDUNIA YANG DILAKUKAN PENYELENGGARA NEGARA.
Inilah akibatnya jika sebuah pemerintahan di pegang oleh manusia yang tamak dan korup :

Waduk situ Gintung yang berbentuk ketapel merupakan tempat ideal untuk rekreasi namun beresiko bagi kelestarian lingkungan. Rimbunan pohon sebelah kanan merupakan lokasi wisata. Sementara, di ujung sebelah kiri adalah hilir letak tanggul yang jebol.

Waduk yang menyisakan lumpur sedang dijaga oleh gerombolan berseragam. Beberapa dari mereka sedang melongok sambil berkata dalam hati, "Duh, airnya hilang.... kok bisa?"

Tanggul yang jebol sepanjang 70m dan tinggi 15m. Fungsi tanggul ini juga sebagai jalan dengan lebar aspal 3m. Terlihat utilitas kabel (Telkom) menggantung. Tanggul dengan struktur tanah urug adalah bangunan lazim yang diterapkan di semua waduk seluruh Indonesia.

Rumah penduduk yang telah ditinggalkan penghuninya (mudah2an keluarga ini selamat), terletak 70m dari ujung tanggul dan berada selevel dengan tinggi air waduk. Besarnya air bah yang digelontorkan waduk ini sanggup melumatkan isi kulkas, bahkan sampai pintunya.

Setelah adzan subuh, jumat (27/03), air bah datang bak tsunami dan menghajar semua bangunan dan menelenggamkam ribuan perabot dan ratusan mobil hingga 1 km, kecuali masjid ini yang tetep kokoh menghadap tanggul yang jebol yang berjarak 70m didepannya.

Dibelakang deretan ruko ini merupakan titik lokasi jebolnya tanggul. Dalam minggu-minggu ini disarankan untuk tidak melewati Jl. H Juanda, Ciputat, jika tidak ada kepentingan. Kalaupun penasaran, lebih baik menonton tayangan televisi sambil minum capucino dan mengunyah gorengan donat import. Ingin menyumbang, itu soal gampang, tinggal pencet HP dan masukkan no rekening account dan send ke lembaga penyalur bantuan resmi yang normor accountnya dapat di baca di runing tex program di televisi2 di tanah air.

Gelombang lautan manusia ini, merupakan bencana sendiri bagi aparat. Berbagai motivasi mereka untuk menyaksikan bencana secara langsung macam-macam. Ada yang datang karena tidak memiliki televisi. Ada yang datang karena sudak muak menyaksikan artis dangdut yang diundang parpol. Juga ada yang datang berombongan dengan membawa bendera partai sambil berorasi dan mengumpat.

Dan ibu ini datang sekedar bernostalgia karena dia setahun lalu masih mengontrak di bawah tanggul yang jebol. "Ohh, untung kami sudah pindah", katanya.

Benar. Di negeri ini, bencana selalu dapat disikapi dengan dua sisi. Menangis bagi yang menjadi korban. Dan tertawa bagi yang merasa diuntungkan. Posko-posko bantuan macam foto di atas jumlahnya bisa ratusan berjajar sepanjang jalan menuju bencana. Disetiap posko juga dapat kita jumpai tumpukan sampah. Namun onggokan sampah yang tingginya sepaha orang dewasa ini bukan sembarang sampah, melainkan nasi bungkus yang masih utuh! Rupanya soal bantuan makanan ini baik para korban maupun penunggu posko benar2 kemlekaren (kekenyangen makan sampai ga bisa jalan).
Soal gotong royong memang sudah budaya bangsa ini. Sayangnya, tidak semua orang berani menjadi relawan menyumbangkan tenaganya. Jika semua orang menyumbang materi, maka tsunami bantuan ini menjadi perkara tersendiri. Sebuah posko dalam semalam bisa mengumpulkan satu truk besar sumbangan yang 90% adalah makanan.
Padahal yang dibutuhkan bangsa ini, sejatinya iuran pemikiran bagaimana negeri ini terhindar dari bencana tolol. Bukan orang-orang yang (berlagak) menjadi pahlawan dengan mengamankan lokasi bencana. Atau berlomba mengirim mi instan. Apapun bantuan yang telah digelontorkan, tak akan mampu menyembuhkan trauma korban, apalagi menghidupkan sanak keluarganya yang mati.
Bagi korban situ Gintung sendiri, yang dibutuhkan adalah rumah. Kalaupun boleh memilih, mereka lebih bahagia sebelum terjadi tsunami ini meskipun sehari-hari cuma makan sekali, dibanding tinggal dipenampungan sekarang ini, dimana soal makan bisa sampai lima kali sehari.
Kita tunggu, apakah pemerintah hasil pemilu 2009 nanti, akan membangun perkampungan itu kembali atau akan dilakukan revitalisasi waduk situ Gintung? Ah, jangan-jangan lebih enak korupsi lagi, hehehe....