
Kawan-kawan yang baik. Ini ada catatan pinggir perjalananku dari Jogja. Tapi bukan cerita Jalan Malioboro dengan hiruk-pikuknya tentang kapitalisme, melainkan sekilas cerita tentang "Rumah Palagan". Sebuah guest house yang nyempil di tengah kampung, jauh dari kota.
Di Rumah Palagan ini P bermalam. Terletak di desa Palagan, Kabupaten Sleman. Bisa ditempuh dari pusat kota Jogja sekitar 10-15 menit dengan kendaraan bermotor ke arah utara, menuju Kaliurang. Di desa Palagan ini, bermacam restourant dapat kita temui dengan mudah. Salah satu yang ngetop adalah 'Cafe Jimbaran' dengan menu modifikasi andalannya berupa ikan dan hasil laut lainnya.
Rumah Palagan ini boleh dibilang 'bersaing' dengan Hyat Hotel. Karena lokasinya yang hanya berjarak kurang dari satu kilometer. Namun, Rumah Palagan ini memiliki keunikan dan 'kelebihan' yang tidak dapat kita temukan di hotel-hotel konvensional. Selain atmosfir desanya yang kental sekali, ternyata setiap tamu yang menginap di Rumah Palagan ini (kalo kita lagi hoki) bisa di service langsung oleh ownernya. Bahkan, kalau kita ingin ke puncak Merapi atau bertemu Mbah MariDjan -- Kira2 punya hubungan apa ya, sama Mbah MD? (Jangan bilang hubungan gelap!) -- ,dengan senang hati tamu akan di antar. Seorang tamu dari Eropa, juga sampe rela pindah ke Rumah Palagan dari sebelumnya di hotel berbintang.

Dengan sentuhan design interior tradisional dan pilihan furniture kuno membuat kita yang biasa hidup di tengah metropolitan, merasa menemukan kembali potongan mozaik jiwa kita saat menginap di Rumah Palagan ini.

Dengan sentuhan design interior tradisional dan pilihan furniture kuno membuat kita yang biasa hidup di tengah metropolitan, merasa menemukan kembali potongan mozaik jiwa kita saat menginap di Rumah Palagan ini.
Satu hal lagi yang membuat aura Rumah Palagan ini tak sekedar tempat nginap biasa, adalah keberadaan foto-foto heroik pertempuran 'Palagan' yang dipimpin oleh Sudirman(Jenderal Besar) yang di pajang di lobby maupun di tiap kamar. Sebagai elemen artistik, foto-foto seukuran poster tersebut eksistensinya mampu menggugah patriotisme bagi setiap tamu yang menikmatinya.

Salut, kepada sang pemilik yang telah membangun Rumah Palagan ini dengan sepenuh jiwa. Yang tiada lain adalah kawan seperjuangan, sekasur dan sepiring. Hidup memang susah diterka. Sapa sangka jika saat mahasiswa, kita berdemo memakai kaus bersablon Che Guevara, namun seiring kematangan jiwa, tenyata Indonesia ini dalam sejarah kemerdekaannya, punya banyak kisah heroik dari pejuang-pejuang sejati.

Salut, kepada sang pemilik yang telah membangun Rumah Palagan ini dengan sepenuh jiwa. Yang tiada lain adalah kawan seperjuangan, sekasur dan sepiring. Hidup memang susah diterka. Sapa sangka jika saat mahasiswa, kita berdemo memakai kaus bersablon Che Guevara, namun seiring kematangan jiwa, tenyata Indonesia ini dalam sejarah kemerdekaannya, punya banyak kisah heroik dari pejuang-pejuang sejati.
Dan pejuang sejati inilah, yang kini sulit kita temukan. Seperti dalam perjalananku Jakarta-Jogja minggu lalu, yang kujumpai adalah ratusan spanduk politik yang bertebar di pohon, di tiang lintrik dan di tiap pilar jembatan. Padahal, pejuang sejati tidak butuh mengiklankan diri kaek iklan obat sakit gigi. Hihihiiiii.... ;-))







pagi! kehkehkeh, dlm tulisannya ada namakoe disebut. Hub. dgn Mbah MariDjan? Baik2 aja tuh ;) FYI: nama tsb kata cucu mbah terispirasi oleh nama beliau.
ReplyDeleteTumben, Bu bahasa ~E~nte 'waras';) (translation: I ~e~njoy 2x! veli-veli mash) nulis lagi yak.
Bagus yak ? ;))Ane bilang juga ape,~E~nte kaga percaya
ReplyDeleteSantapan lezat dan bergizi. Pantes buwat 'orang besar' . ~E~mang ~P~lan aselinya getu, kaga paham dah, pagimane urusannye. Just Wait n See